Kalsel
Gubernur Muhidin Salurkan Alsintan untuk Petani Jagung Tanah Laut

PELAIHARI, bantanews.com — Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada petani di Kabupaten Tanah Laut guna mendukung pengembangan kawasan sentra jagung sekaligus memperkuat ketahanan pangan menuju swasembada pangan nasional.
Bantuan tersebut diserahkan melalui Polda Kalimantan Selatan dalam rangkaian pencanangan Kabupaten Tanah Laut sebagai Sentra Jagung yang digelar di lahan panen jagung Desa Banyu Irang, Kecamatan Bati-Bati, Senin (29/6/2026).
Bantuan yang disalurkan meliputi empat unit combine harvester, lima unit traktor, 2.250 kilogram benih jagung super hibrida, 7.500 kilogram pupuk NPK, serta 150 liter pupuk hayati.
Gubernur H. Muhidin berharap seluruh bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya komoditas jagung di Kabupaten Tanah Laut.
“Mudah-mudahan bantuan yang diberikan bisa dimanfaatkan masyarakat petani dalam meningkatkan produksi jagung di daerah ini,” ujarnya.
Muhidin juga meminta jajaran Polda Kalsel untuk terus mengidentifikasi lahan-lahan tidur yang masih berpotensi dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif.
“Silakan berkoordinasi dengan Pemprov agar kita bersama-sama memanfaatkan lahan-lahan tidur tersebut,” katanya.
Selain itu, Gubernur mengajak para petani memanfaatkan kebijakan tabel rafaksi yang telah diterapkan agar harga jual jagung lebih menguntungkan dan mampu meningkatkan pendapatan petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, mengatakan Kabupaten Tanah Laut menjadi daerah pertama di Indonesia yang menerapkan tabel rafaksi untuk komoditas jagung.
“Dengan adanya tabel rafaksi ini, kami berharap pemerintah kabupaten segera menetapkan kecamatan-kecamatan prioritas karena Tanah Laut menjadi daerah percontohan di Kalimantan Selatan,” jelas Syamsir.
Ia menambahkan, selain Tanah Laut, terdapat empat kabupaten lain di Kalimantan Selatan yang dipersiapkan menjadi sentra jagung, yakni Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tapin, dan Kabupaten Banjar.
Melalui program tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berharap produksi jagung terus meningkat sehingga mampu mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional. (rls/aqmar/bn).
Kalsel
Muhidin Resmi Buka MTQ XXXVII Kalsel di Marabahan
MARABAHAN, bantanews.com – Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin resmi membuka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXVII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2026 di Lapangan 5 Desember Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Sabtu (20/6/2026) malam.
MTQ yang mengusung tema “Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan Masyarakat untuk Mewujudkan Batola Satu (Sejahtera, Agamis, Terpadu, dan Unggul)” itu berlangsung pada 18–26 Juni 2026 dan diikuti 1.391 kafilah dari 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Dalam sambutannya, H Muhidin mengapresiasi penyelenggaraan MTQ dan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mencintai serta membiasakan membaca Al-Qur’an di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan hiburan digital.
“MTQ harus menjadi momentum memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para orang tua membiasakan anak-anak membaca Al-Qur’an sejak dini, terutama setelah salat Magrib, agar tumbuh menjadi generasi Qurani yang berakhlak dan berkarakter.
Sementara itu, Bupati Barito Kuala H Bahrul Ilmi berharap MTQ tidak hanya melahirkan peserta terbaik, tetapi juga mendorong masyarakat mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Selama pelaksanaan, peserta akan berkompetisi pada sembilan cabang lomba yang terbagi dalam 27 golongan, meliputi Tilawah, Hifzh, Qira’at, Tafsir, Syarhil Qur’an, Fahmil Qur’an, Khat Al-Qur’an, Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ), serta Barzanji dan Hadis Nabi sebagai cabang ekshibisi.
Pembukaan MTQ turut dimeriahkan defile kafilah dari 13 kabupaten/kota serta penampilan Drum Band Corps Bahana Ije Jela Marabahan. Kegiatan ditutup dengan pengibaran bendera MTQ dan doa bersama sebagai tanda dimulainya rangkaian perlombaan. (adv/aqmar/kb).
Kalsel
Dugaan Pengalihan ADD ke DD di Desa Sungai Lumbah Jadi Sorotan, Publik Pertanyakan Ketegasan DPMD dan Inspektorat
MARABAHAN, bantanews.com – Dugaan pengalihan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Sungai Lumbah, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, terus menjadi sorotan publik.
Polemik ini semakin memantik pertanyaan setelah muncul ketidaksinkronan keterangan antara Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Barito Kuala dengan Inspektorat terkait dugaan perubahan peruntukan anggaran yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan desa.
Persoalan tersebut mencuat setelah beredar informasi bahwa sejumlah kegiatan yang semestinya dibiayai melalui ADD diduga dialihkan pembiayaannya menggunakan Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2026. Jika terbukti terjadi, praktik tersebut berpotensi melanggar aturan pengelolaan keuangan desa yang telah mengatur secara tegas perbedaan fungsi dan peruntukan masing-masing sumber pendanaan.
Namun yang menjadi perhatian masyarakat bukan hanya dugaan pengalihan anggaran itu sendiri, melainkan juga belum terlihat adanya langkah tegas dari instansi terkait untuk memberikan kepastian atas persoalan tersebut.
Sejumlah warga menilai DPMD sebagai instansi pembina pemerintahan desa dan Inspektorat sebagai aparat pengawas internal pemerintah daerah seharusnya dapat bertindak lebih cepat dalam melakukan klarifikasi, pemeriksaan, maupun memberikan penjelasan kepada publik agar polemik tidak terus berkembang menjadi berbagai spekulasi.
Kepala Inspektorat Kabupaten Barito Kuala, Selamet Riyanto, mengakui pihaknya tidak dilibatkan dalam proses pemeriksaan maupun penanganan persoalan yang terjadi di Desa Sungai Lumbah.
Padahal, Inspektorat memiliki fungsi strategis dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah serta pencegahan penyimpangan dalam tata kelola keuangan pemerintah, termasuk di tingkat desa.
Saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu lalu, Selamet sempat memilih tidak memberikan tanggapan. Beberapa hari kemudian, ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah diajak atau dilibatkan oleh DPMD dalam proses pengawasan terhadap persoalan tersebut.
“Seandainya DPMD mengajak kami, kami bersedia dengan senang hati membantu,” ujar Selamet Riyanto kepada redaksi, Kamis (11/6/2026) malam.
Pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat. Mengapa dalam persoalan yang menyangkut tata kelola keuangan desa, koordinasi antara dua lembaga yang memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan tersebut terkesan tidak berjalan optimal?
Masyarakat juga mempertanyakan mengapa hingga kini belum ada kesimpulan resmi maupun tindakan konkret yang disampaikan kepada publik terkait dugaan pengalihan anggaran tersebut.
Kondisi itu dinilai berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pengawasan dan pembinaan pemerintahan desa.
Dalam mediasi yang berlangsung pada 9 Juni 2026, muncul fakta lain yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Pemerintah Desa Sungai Lumbah dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Kepala Desa Sungai Lumbah, Farid Arman, menyatakan dirinya tetap mengusulkan agar insentif TPA/TPQ dimasukkan dalam anggaran desa. Namun pandangan berbeda justru terlihat dari Ketua BPD, Makmur Huda.
Dalam forum yang seharusnya menjadi ruang mencari solusi bersama tersebut, kedua pihak terkesan saling melempar tanggung jawab terkait tidak terakomodirnya usulan insentif bagi guru TPA/TPQ. Kondisi itu menimbulkan kesan bahwa komunikasi dan koordinasi antara pemerintah desa dan BPD belum berjalan secara harmonis.
Perbedaan sikap tersebut menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut kepentingan para guru TPA/TPQ yang selama ini berharap adanya dukungan anggaran dari pemerintah desa.
Di tengah upaya mencari titik temu, suasana mediasi juga diwarnai insiden yang dinilai tidak mencerminkan etika seorang penyelenggara pemerintahan desa.
Salah seorang anggota BPD, Ainul Yakin, diduga melontarkan kalimat bernada intimidatif kepada seorang wartawan yang menghadiri kegiatan tersebut.
“Ikam tahu haja kalu rumah ku. Aku urang Hulu Sungai kada bebukahan,” ucapnya saat wartawan meninggalkan lokasi mediasi.
Pernyataan tersebut menuai sorotan karena dianggap tidak pantas disampaikan kepada insan pers yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Terlebih, ucapan itu muncul dalam forum yang seharusnya mengedepankan dialog, keterbukaan, dan penyelesaian masalah secara bijaksana.
Sebagai anggota BPD yang memiliki fungsi menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, sikap demikian dinilai berpotensi mencederai semangat demokrasi serta keterbukaan informasi publik.
Polemik yang terus berkembang akhirnya sampai ke perhatian Ketua DPC APDESI se-Kecamatan Alalak, H. Meri Afriansyah.
Ia mengingatkan seluruh pihak agar menyikapi persoalan secara bijaksana dan tidak mengedepankan emosi dalam menyelesaikan perbedaan pendapat.
“Hati boleh panas, tetapi otak harus dingin. Emosional boleh ada, tetapi harus bisa dikendalikan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu kejelasan terkait dugaan pengalihan Alokasi Dana Desa (ADD) ke Dana Desa (DD) di Desa Sungai Lumbah.
Masyarakat berharap DPMD maupun Inspektorat dapat menunjukkan langkah yang lebih tegas, transparan, dan akuntabel agar persoalan tersebut memperoleh kepastian hukum serta tidak terus menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tata kelola keuangan desa tidak hanya membutuhkan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga pengawasan yang kuat, koordinasi antarinstansi yang efektif, serta komunikasi yang sehat antara pemerintah desa, BPD, dan masyarakat demi terwujudnya pemerintahan desa yang transparan dan berintegritas. (red/bn).
Banjarmasin
Hadiri Mukerda MUI Kalsel, Pemprov Tekankan Pentingnya Harmoni dan Toleransi
BANJARBARU, bantanews.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) I dan Dialog Kebangsaan Masa Khidmat 2026–2031 di Hotel Grand Qin Banjarbaru, Senin (15/6/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 500 peserta tersebut menjadi forum strategis bagi MUI Kalsel untuk merumuskan program kerja, melakukan evaluasi pelaksanaan program sebelumnya, serta menyusun langkah-langkah organisasi ke depan. Mukerda mengusung tema “Memperkuat Soliditas Kebangsaan di Era Ketidakpastian”.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq, Ketua DPRD Kalsel H Supian HK, Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Noviar, Kepala Staf Korem 101/Antasari Kolonel Inf Roy Fahrur Rozi, Wakil Ketua Umum MUI Pusat KH Marsudi Syuhud, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kalsel KH Hafiz Anshary, serta jajaran pengurus MUI provinsi dan kabupaten/kota se-Kalsel.
Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Adi Santoso, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Mukerda I dan Dialog Kebangsaan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan peran aktif MUI dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah dan kehidupan berbangsa.
“MUI memiliki posisi strategis sebagai wadah pemersatu umat, menjaga toleransi, membangun harmoni kehidupan beragama, serta memberikan nasihat dan fatwa yang menjadi pedoman masyarakat,” ujar Muhidin dalam sambutan tertulisnya.
Ia menegaskan pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan ulama dalam menghadapi berbagai tantangan di era keterbukaan informasi, termasuk maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga paham yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan harus terus ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui ruang-ruang dialog yang konstruktif dan inklusif.
“Pemerintah dan ulama kiranya saling merangkul untuk memperkuat soliditas kebangsaan, sehingga berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dapat diselesaikan secara bersama-sama,” pesannya.
Sementara itu, Ketua MUI Kalsel KH Ahmad Syairazi menegaskan bahwa MUI harus menjadi rumah besar umat Islam yang mampu merangkul seluruh komponen masyarakat tanpa memandang perbedaan pandangan.
Ia menilai keberagaman yang ada harus dijadikan kekuatan untuk membangun sinergi dan kolaborasi demi kemaslahatan umat yang lebih luas.
KH Ahmad Syairazi berharap Mukerda I mampu menghasilkan program kerja yang realistis, implementatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kerja sama antara MUI, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan Islam, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Tantangan umat saat ini tidak dapat dihadapi sendiri-sendiri. Karena itu, kolaborasi dan semangat gotong royong menjadi kunci dalam menjalankan dakwah dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Mukerda dan Dialog Kebangsaan MUI Kalsel juga dihadiri para pejabat pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, pimpinan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, akademisi, tokoh agama, serta berbagai unsur masyarakat lainnya. (rls/aqmar/bn).
Marabahan
Polemik Insentif TPA Sungai Lumbah Belum Tuntas, Camat dan Inspektorat Jadi Sorotan
MARABAHAN, bantanews.com – Kebijakan Pemerintah Desa Sungai Lumbah, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, yang menghapus insentif bagi tenaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) pada Tahun Anggaran 2026 terus menuai sorotan dari masyarakat.
Kebijakan tersebut dinilai mengabaikan aspek pembinaan dan pemberdayaan masyarakat karena anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk kegiatan kelembagaan dan pembinaan sosial keagamaan dialihkan ke program pembangunan fisik.
Sejumlah warga menilai penghapusan insentif TPA tidak sejalan dengan semangat pemberdayaan masyarakat yang selama ini menjadi salah satu prioritas penggunaan Dana Desa. Menurut mereka, anggaran untuk kelembagaan dan kegiatan sosial keagamaan nilainya relatif kecil dibandingkan pembangunan fisik, namun manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya dalam pembinaan generasi muda melalui pendidikan agama.
Polemik ini semakin berkembang setelah upaya mediasi yang difasilitasi pemerintah desa dan dihadiri pihak Kecamatan Alalak belum menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima seluruh pihak. Dalam pertemuan tersebut, suasana sempat memanas hingga memunculkan ketegangan antara beberapa peserta forum.
Masyarakat menilai persoalan tersebut seharusnya dapat diselesaikan melalui pendekatan dialogis dan musyawarah yang mengedepankan kepentingan bersama. Mereka juga berharap seluruh unsur pemerintahan desa dan lembaga desa dapat menjaga kondusivitas serta mengedepankan etika dalam menyikapi kritik maupun aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Sorotan kemudian mengarah kepada peran Pemerintah Kecamatan Alalak. Sebagai unsur yang memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa, camat dinilai memiliki kewenangan untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik sosial di masyarakat.
“Masyarakat hanya ingin ada solusi dan kejelasan. Jangan sampai persoalan ini berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang konkret,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Selain peran kecamatan, masyarakat juga mempertanyakan sikap Inspektorat Kabupaten Barito Kuala yang hingga kini dinilai belum terlihat mengambil langkah tegas terhadap polemik tersebut. Padahal, Inspektorat memiliki fungsi pengawasan internal pemerintah daerah, termasuk melakukan pembinaan, pengawasan, audit, serta pemeriksaan terhadap pengelolaan keuangan dan tata kelola pemerintahan desa apabila terdapat laporan atau indikasi permasalahan.
Munculnya keluhan masyarakat terkait pengalihan anggaran dan penghapusan insentif TPA dinilai seharusnya menjadi perhatian serius bagi aparat pengawas internal pemerintah. Warga berharap Inspektorat tidak hanya menunggu situasi berkembang, tetapi juga proaktif melakukan klarifikasi, pendalaman informasi, maupun langkah pengawasan sesuai kewenangannya untuk memastikan seluruh kebijakan yang diambil pemerintah desa telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kalau memang tidak ada masalah, tentu harus dijelaskan kepada masyarakat. Tetapi kalau ada yang perlu dievaluasi, maka harus ada tindakan pembinaan. Di sinilah masyarakat mempertanyakan peran Inspektorat,” ungkap warga lainnya.
Tak hanya itu, sejumlah warga juga menyoroti suasana forum mediasi yang dinilai kurang kondusif. Mereka mengaku menyayangkan adanya dugaan tindakan intimidatif yang terjadi dalam forum tersebut, termasuk terhadap seorang wartawan yang hadir untuk menjalankan tugas jurnalistik.
Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, wartawan yang meliput jalannya mediasi disebut sempat mendapatkan ucapan bernada ancaman dari salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Peristiwa tersebut dinilai tidak mencerminkan semangat keterbukaan informasi dan demokrasi yang seharusnya dijunjung dalam forum penyelesaian persoalan publik.
Warga menilai kehadiran wartawan dalam forum tersebut merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Karena itu, mereka berharap seluruh pihak dapat menghormati kerja-kerja jurnalistik serta tidak melakukan tindakan yang dapat dianggap sebagai bentuk tekanan atau intimidasi terhadap insan pers.
“Kritik dan pemberitaan adalah bagian dari kontrol sosial. Kalau ada yang tidak setuju, sebaiknya disampaikan melalui hak jawab atau klarifikasi, bukan dengan cara-cara yang dapat menimbulkan kesan intimidatif,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Di sisi lain, informasi yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa penanganan persoalan tersebut sempat saling diarahkan antara beberapa instansi, mulai dari pemerintah kecamatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), hingga Inspektorat. Kondisi tersebut memunculkan kesan lemahnya koordinasi antarlembaga dalam merespons aspirasi masyarakat.
Padahal, masing-masing instansi memiliki tugas dan fungsi yang jelas. Pemerintah kecamatan berperan dalam pembinaan dan fasilitasi pemerintahan desa, DPMD bertugas melakukan pembinaan teknis penyelenggaraan pemerintahan desa, sementara Inspektorat menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan terhadap tata kelola pemerintahan serta penggunaan anggaran.
Karena itu, masyarakat berharap seluruh pihak terkait dapat segera duduk bersama untuk melakukan evaluasi dan mencari solusi terbaik atas polemik penghapusan insentif TPA tersebut. Mereka menilai penyelesaian yang transparan dan akuntabel sangat penting agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap pengelolaan Dana Desa serta menjaga keberlangsungan kegiatan pendidikan keagamaan yang selama ini berjalan di Desa Sungai Lumbah.
Hingga berita ini diturunkan, polemik penghapusan insentif TPA di Desa Sungai Lumbah masih menjadi perhatian masyarakat. Warga berharap Pemerintah Desa Sungai Lumbah, BPD, Kecamatan Alalak, DPMD Kabupaten Barito Kuala, dan Inspektorat Kabupaten Barito Kuala segera memberikan penjelasan serta langkah nyata guna menyelesaikan persoalan tersebut secara objektif, transparan, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Masyarakat juga meminta agar seluruh pihak menghormati kebebasan pers dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, sehingga setiap persoalan yang terjadi di lingkungan pemerintahan desa dapat diselesaikan secara terbuka, profesional, dan mengedepankan kepentingan masyarakat luas. (red/bn).
Kalsel
Ketua BPD Sei Lumbah Diduga Intervensi Anggota
MARABAHAN, bantanews.com – Polemik dugaan belum dibayarkannya insentif guru TPA di Desa Sungai Lumbah, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Kalsel), terus bergulir dan memunculkan babak baru yang menyita perhatian publik.

Dari kiri nomor delapan Makhur Huda Ketua BPD Desa Sungai Lumbah (foto dok)
Di tengah sorotan terhadap dugaan tidak tersalurkannya hak para guru mengaji tersebut, justru muncul pernyataan kontroversial dari Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sungai Lumbah, Makhur Huda, yang dinilai sejumlah pihak sebagai bentuk intervensi terhadap anggotanya sendiri.
Alih-alih meredam situasi dan menjaga harmonisasi kelembagaan, Ketua BPD malah melontarkan pernyataan yang dianggap menyudutkan salah satu anggota BPD yang turut menyoroti persoalan insentif TPA tersebut.
Melalui percakapan di grup WhatsApp yang beranggotakan unsur Pemerintah Desa dan BPD, Makhur Huda secara terbuka meminta anggotanya untuk mengundurkan diri dari lembaga tersebut.
“San misal kerjaan kamu di BPD bertentangan di media lebih baik kamu mengundurkan diri. Kasian kamu bikin malu diri sendiri,” tulis Ketua BPD dalam percakapan grup. Senin, (2/6/2026) malam.
Pernyataan tersebut sontak memantik berbagai pertanyaan.Sebab, secara kelembagaan BPD merupakan wadah yang dibentuk untuk menampung aspirasi masyarakat serta menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. Perbedaan pendapat di dalam organisasi seharusnya menjadi ruang diskusi dan evaluasi, bukan alasan untuk menekan atau membungkam pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Publik pun bertanya-tanya, apakah seorang Ketua BPD memiliki kewenangan untuk meminta anggotanya mengundurkan diri hanya karena adanya perbedaan sikap atau pandangan yang muncul ke ruang publik?
Apakah kritik terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat merupakan tindakan yang layak dibalas dengan permintaan pengunduran diri?
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah mengapa persoalan insentif guru TPA yang menjadi hak para pengajar agama justru memicu reaksi keras dari pimpinan lembaga yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan desa.
Tidak sedikit warga yang mempertanyakan, apakah dana insentif tersebut merupakan urusan pribadi sehingga ketika dipersoalkan muncul respons yang begitu emosional terhadap pihak yang mempertanyakannya.
Yang lebih disayangkan, dalam percakapan tersebut disebut-sebut turut menyeret nama orang tua anggota BPD. Padahal substansi persoalan yang diperdebatkan berkaitan dengan kebijakan dan tata kelola pemerintahan desa, bukan urusan keluarga ataupun persoalan pribadi.
Polemik ini tidak hanya menyoroti persoalan insentif guru TPA, tetapi juga menjadi cerminan bagaimana sebuah lembaga desa menyikapi kritik dan perbedaan pandangan di internalnya. Dalam tata kelola pemerintahan desa yang sehat, kritik seharusnya dijawab dengan data, penjelasan, dan transparansi, bukan dengan perintah agar pihak yang berbeda pendapat menyingkir dari lembaga.
Seorang Ketua BPD sejatinya adalah pengayom bagi seluruh anggota. Jabatan tersebut melekat dengan tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan organisasi, bukan memperuncing konflik yang terjadi.
Pernyataan yang bernada menyudutkan anggota sendiri berpotensi mencederai marwah lembaga yang selama ini menjadi representasi suara masyarakat di tingkat desa.
Di tengah sorotan yang terus menguat, yang dibutuhkan saat ini bukanlah konflik berkepanjangan atau saling serang antarpejabat desa. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan dan penjelasan yang mampu menjawab berbagai pertanyaan publik terkait penyaluran insentif guru TPA, sehingga polemik yang berkembang tidak semakin melebar dan menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga desa. (tim/bn).
Kalsel
Hikmah Allam Larut yang Mengubah Cara Memandang Hidup
Penulis :Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)
MARABAHAN, bantanews.com – Sirene azan Asar berkumandang dari berbagai penjuru kampung, memecah keheningan sore dengan lantunan yang menyejukkan hati. Suara panggilan suci itu seakan mengiringi langkah sebuah perjalanan yang bukan sekadar menempuh jarak, melainkan meniti jalan pencarian makna kehidupan yang sesungguhnya.
Perjalanan dimulai dari Markas Komplek Batola Residence Blok H Site III Nomor 17, Handil Pinang II, RT 12, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (24/5/2026) sore.
Di bawah komando CEO PT Barito Media Jaya Group, Sulaiman A.S., yang akrab disapa M. Jaya, rombongan bergerak menuju sebuah majelis ilmu Mahabbaturrasul atau yang lebih dikenal dengan “Allam Larut” yang berada di Desa Samuda, Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala.
Bagi sebagian orang, perjalanan hanyalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun bagi para pencari hikmah, setiap kilometer yang dilalui menyimpan pelajaran. Hamparan sawah yang membentang, pepohonan rindang yang berdiri kokoh di sepanjang jalan, hingga langit senja yang perlahan berubah warna, seolah menjadi saksi bisu perjalanan para musafir yang tengah mencari cahaya pengetahuan rohani.
Di tengah perjalanan, rombongan sempat berhenti sejenak untuk membeli jengkol yang nantinya akan disantap bersama jamaah. Kesederhanaan itu justru menghadirkan kehangatan tersendiri, memperlihatkan bahwa kebersamaan sering kali lahir dari hal-hal yang sederhana.
Deru mesin mobil kembali mengalun membelah jalanan desa. Semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin kuat pula tekad rombongan untuk sampai ke tujuan. Tak ada rasa lelah yang berarti, karena tujuan utama perjalanan ini adalah menimba ilmu dan memperdalam pemahaman tentang hakikat pengenalan diri kepada Sang Pencipta.
Sesampainya di Majelis Mahabbaturrasul (Zikir dan Sholawat), suasana terlihat begitu hidup. Puluhan jamaah laki-laki dan perempuan tampak memadati kawasan majelis. Sebagian baru datang, sebagian lainnya bersiap meninggalkan lokasi setelah mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan.
Di pintu masuk, rombongan disambut hangat oleh H. Sidik, yang lebih dikenal dengan panggilan Kancil. Sosok yang merupakan anak angkat dari Sohibul Majelis, TG. KH. Syarwani, itu menyambut para tamu dengan penuh keramahan, seakan kedatangan rombongan memang telah lama dinantikan.
Kehadiran Sulaiman, sapaan akrab M. Jaya, bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Ia juga membawa buah tangan berupa keripik singkong yang dibagikan kepada jamaah sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan kepada para pencinta majelis ilmu.
Sebagai bentuk penghormatan dan kedekatan batin yang telah terjalin, Sohibul Majelis TG. KH. Syarwani atau yang akrab disapa Abah Isar menyerahkan tiga lembar sarung kepada Sulaiman A.S. Sarung tersebut kemudian dibagikan kembali oleh M. Jaya kepada anggota rombongan, di antaranya Jamhari dan Ihsan yang turut mendampingi perjalanan silaturahmi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Abah Isar juga menyampaikan bahwa Sulaiman merupakan sosok yang telah dikenal oleh Sohibul Bait. Menurut beliau, kedekatan tersebut bukan sekadar ungkapan basa-basi atau pemanis dalam pergaulan. Abah Isar menggambarkan hubungan batin yang terjalin itu sebagai bentuk pengenalan yang lahir dari keberkahan majelis dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW. Bahkan beliau menyebutkan, apa yang diminta Sulaiman insya Allah akan dikabulkan selama berada dalam perkara kebaikan. Penyampaian itu disampaikan bukan untuk mengagungkan seseorang, melainkan sebagai bentuk kesaksian yang jujur atas kedekatan yang telah terjalin. Menurut Abah Isar, seseorang yang telah mengenal Tuhannya dan mendapatkan kemuliaan dari Sohibul Bait akan memperoleh pertolongan dan keberkahan yang tidak dapat diukur dengan pandangan lahiriah semata.
Di dalam ruangan, tampak TG. KH. Sofwan yang turut mengisi kegiatan keagamaan. Wajah-wajah jamaah terlihat khusyuk mengikuti setiap rangkaian majelis, sementara lantunan zikir dan sholawat menggema lembut memenuhi ruangan.
Malam pun semakin larut. Hening perlahan menyelimuti suasana, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia. Dalam suasana penuh kekhusyukan itulah, Sohibul Majelis TG. KH. Syarwani, yang akrab disapa Abah Isar, menyampaikan nasihat yang menggugah hati para jamaah.
Menurut beliau, kebanyakan manusia terlalu sibuk memikirkan kebutuhan jasad, tetapi sering melupakan kebutuhan rohani yang justru menjadi bekal utama dalam perjalanan menuju Allah SWT.
“Kita cuma memikirkan sarana kebutuhan jasad. Satu bulan atau dua bulan tidak bekerja saja sudah dipikirkan. Sedangkan makanan rohani sering dilalaikan. Padahal sarana untuk makanan rohani itu sangat penting, salah satunya melalui majelis ilmu,” ujar Abah Isar di hadapan jamaah.
Nasihat itu menggema dalam ruang kesadaran para hadirin. Bahwa manusia bukan hanya terdiri dari tubuh yang membutuhkan makan dan minum, tetapi juga ruh yang memerlukan santapan berupa ilmu, zikir, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Lebih jauh, Abah Isar menjelaskan bahwa hakikat pengenalan diri tidak berhenti pada mengenal nama, jabatan, atau identitas lahiriah semata. Menurutnya, seseorang harus mengenal siapa yang menciptakan dirinya.
“Kenali diri jangan cuma nama. Apalah sebuah nama. Yang paling penting adalah mengenal Yang Maha Memberi nama,” tutur beliau.
Menjelang kepulangan rombongan, suasana kekeluargaan kembali terasa begitu hangat. Istri H. Sidik memberikan satu set perlengkapan dapur berupa belati dan beberapa pisau kepada Sulaiman A.S. sebagai buah tangan. Pemberian tersebut disampaikan dengan harapan agar peralatan itu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga serta membantu berbagai aktivitas dapur, termasuk mengiris singkong yang selama ini kerap menjadi sajian kebersamaan dalam berbagai kegiatan silaturahmi dan majelis.
Pada kesempatan yang sama, suasana akrab juga terlihat ketika istri H. Sidik bersama istri Sambialaw, sapaan akrab Ihsan, membantu melakukan pemasangan kuku hias kepada putri Sulaiman. Momen sederhana itu menambah kesan hangat dalam pertemuan tersebut, sekaligus menunjukkan eratnya hubungan kekeluargaan yang terjalin antara keluarga majelis dan rombongan tamu.
Bagi rombongan, perhatian yang diberikan tuan rumah menjadi kenangan yang berkesan. Sebab, di balik kesederhanaannya tersimpan nilai-nilai persaudaraan, penghormatan kepada tamu, serta ketulusan yang menjadi ciri khas masyarakat Banjar dalam menjaga tali silaturahmi.
Kalimat sederhana itu seolah menjadi puncak dari perjalanan malam tersebut. Sebuah pengingat bahwa di balik segala aktivitas dunia, manusia pada akhirnya sedang menempuh perjalanan pulang menuju Tuhannya.
Perjalanan menuju Majelis Mahabbaturrasul malam itu bukan sekadar kunjungan biasa. Ia menjelma menjadi perjalanan batin yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya ditemukan dalam terpenuhinya kebutuhan jasmani, tetapi juga dalam hadirnya cahaya ilmu yang menerangi hati. Di tengah gelapnya malam Desa Samuda, para musafir pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar oleh-oleh perjalanan, yakni hikmah tentang pentingnya mengenal diri untuk mengenal Sang Pencipta. (***)
Kalsel
Menjemput Hikmah di Ujung Perjalanan Pulang
Penulis : Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)
TAPIN, bantanews – Empat hari meninggalkan Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, mungkin hanya sekejap dalam hitungan waktu. Namun bagi seorang musafir jurnalistik, perjalanan itu terasa jauh lebih panjang dari sekadar angka di kalender. Setiap kilometer yang dilalui seolah membuka lembar demi lembar pelajaran kehidupan yang tak tertulis di buku mana pun.
Dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman usai menjalankan tugas dan silaturahmi di berbagai daerah, rombongan yang dipimpin CEO PT Barito Media Jaya Group, Sulaiman A.S., atau yang akrab disapa M. Jaya, menyempatkan diri berkunjung ke kediaman H. Sidiq di Sungai Puting, Kecamatan Candi Laras Utama, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Sabtu (16/5/2026) siang.
H. Sidiq dikenal sebagai salah satu murid dari Almarhum Tuan Guru Syarwani, Sohibul Majelis Mahabbaturrasul Kunjungan tersebut bukan sekadar singgah melepas lelah, melainkan menjadi momentum silaturahmi yang sarat dengan nilai persaudaraan dan pelajaran batin.
Namun perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Rombongan sempat kesulitan menemukan alamat rumah yang dituju. Jalan-jalan perusahaan tambang yang bercabang membuat arah perjalanan beberapa kali membingungkan.
Melihat kondisi tersebut, Sulaiman A.S. langsung menghubungi H. Sidik melalui telepon. Dari seberang sambungan, petunjuk demi petunjuk diberikan hingga akhirnya rombongan mengetahui bahwa lokasi yang dimaksud berada di kawasan yang melewati sejumlah pos keamanan milik perusahaan tambang batu bara di bawah naungan PT Hasnur Group.
Menariknya, hampir seluruh petugas keamanan yang ditemui mengenal sosok H. Sidik. Nama pria sederhana itu rupanya begitu akrab di telinga para penjaga yang bertugas di kawasan tersebut.
Sesampainya di sebuah persimpangan jalan, rombongan disambut seorang lelaki berambut gondrong, mengenakan kaus sederhana dan bersarung. Dialah Kancil sapaan akrab H. Sidik yang telah menunggu kedatangan tamunya.
Senyumnya menyambut hangat, seolah menghapus lelah perjalanan panjang yang sejak pagi membayangi rombongan.
Memasuki rumah, suasana kekeluargaan langsung terasa. Berbagai hidangan telah tersaji rapi. Tidak ada kesan dibuat-buat, semuanya mengalir dalam kesederhanaan yang tulus. Ia tampak sibuk memastikan setiap tamu mendapatkan pelayanan terbaik.
“Setiap tamu yang datang sudah menjadi kebiasaan kami untuk dimuliakan. Kehadiran pian-pian ke sini seperti membawa keberkahan dan menghapus dosa-dosa kami,” ujar Kancil sapaan akrab H. Sidik sambil tersenyum.
Ungkapan itu mengingatkan pada ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya memuliakan tamu sebagai bagian dari kemuliaan akhlak seorang muslim.
Perbincangan pun berlangsung hangat. Tidak ada perdebatan ataupun adu argumentasi. Yang terjadi justru sebuah muzakarah, saling mengingatkan dalam suasana penuh kekeluargaan.
Di tengah pembicaraan, H. Sidik menyampaikan kalimat sederhana yang terdengar singkat, namun menyimpan makna mendalam.
“Jadilah diri sendiri, jangan jadi Bang Sulaiman,” ucap Kacil sapaan akrab H. Sidik sambil menatap disekelilingya.
Sekilas kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi mereka yang memahami bahasa nasihat para pencari hikmah, ucapan tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak kehilangan jati dirinya dan tetap berjalan sesuai jalan yang telah Allah tetapkan baginya.
Percakapan kemudian semakin cair ketika istri H. Sidik, Nida Oktaria Riyatul Jannah, ikut bergabung.
Dengan gaya bicara yang lugas dan ceplas-ceplos, ia justru menghadirkan suasana akrab yang penuh kehangatan. Di balik tutur katanya yang terdengar tegas, tersimpan pribadi yang ramah dan dermawan.
Pada kesempatan itu, Nida memperlihatkan sebuah gambar seorang lelaki yang menurutnya memiliki kemiripan dengan Sulaiman A.S., baik dari raut wajah, rambut maupun gaya berbicara.
“Sidin nih mirip banar lawan yang ada di gambar di HP ulun nih ,” ujarnya memperliatkan gambar sambil tersenyum.
Tak lama berselang, suasana berubah menjadi lebih hening ketika pembicaraan menyentuh persoalan makrifat dan pengenalan kepada Allah SWT.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Nida menyampaikan pandangannya tentang betapa mudahnya jalan mengenal Sang Pencipta apabila dilakukan dengan ketulusan hati.
“Untuk mengenal Allah itu sangat mudah, bahkan lebih cepat daripada membalikkan telapak tangan,” tuturnya.
Kalimat singkat tersebut menghadirkan perenungan panjang bagi siapa saja yang mendengarnya. Sebuah pesan bahwa kedekatan dengan Allah sejatinya bukan perkara rumit, melainkan tentang keikhlasan dan kesungguhan hati dalam mencari-Nya.
Sebagai tali persaudaraan serta cendera mata, H. Sidik memberikan kenang-kenangan berupa satu bilah benda pusaka yang telah lama hilang. Anehnya, setelah kedatangan Sulaiman A.S., benda tersebut kembali ditemukan.
Peristiwa itu menjadi bahan perbincangan hangat di antara mereka yang hadir, seolah menambah warna tersendiri dalam pertemuan yang penuh hikmah tersebut.
Menjelang malam, mentari perlahan mulai condong ke barat. Sementara itu, perjalanan pulang menuju kampung halaman masih membentang cukup panjang. Setelah beberapa jam larut dalam suasana silaturahmi, mendengarkan petuah, bertukar pengalaman, dan menimba pelajaran kehidupan yang tak ternilai harganya, Sulaiman A.S. menyadari bahwa sudah saatnya melanjutkan perjalanan. Bagi seorang musafir, setiap pertemuan memiliki waktunya sendiri, dan setiap perpisahan selalu menyimpan harapan untuk dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.
Sebelum beranjak meninggalkan kediaman H. Sidiq, Sulaiman A.S. terlebih dahulu memohon diri kepada tuan rumah. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan selama kunjungan tersebut.
“Dansanak kami pulang dulu. Ini bukan berarti memutus silaturahmi. Mudahan di lain waktu kita semua dipertemukan kembali. Karena kalau memutus silaturahmi, kami tentu tidak akan sampai ke sini. Mudahan kita semua saling mendoakan dan mendapat ridha Rasulullah SAW, karena kami ini bagaikan musafir yang tersesat dan sedang mencari jalan pulang,” ungkap Sulaiman yang akrab disapa M. Jaya.
Ucapan itu seakan menjadi penutup yang indah bagi sebuah pertemuan yang singkat namun penuh makna. Jabat tangan dan pelukan hangat mengiringi langkah kepulangan rombongan. Meski kendaraan kembali melaju meninggalkan Sungai Puting, berbagai nasihat, ketulusan pelayanan, serta pelajaran tentang persaudaraan yang didapat hari itu tetap tertinggal di dalam hati, menjadi bekal berharga dalam menapaki perjalanan hidup berikutnya.
Meski pertemuan itu baru berlangsung untuk kedua kalinya, suasana yang terbangun terasa seperti keluarga yang telah lama saling mengenal. Tidak ada sekat formalitas, tidak ada jarak yang membatasi. Yang hadir hanyalah kehangatan persaudaraan yang lahir dari kesamaan niat dan kecintaan kepada jalan kebaikan.
Bagi seorang musafir jurnalistik, perjalanan seperti ini menyimpan pelajaran yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain.
Di balik debu jalanan, panjangnya perjalanan, dan rasa lelah yang menyertai, selalu ada hikmah yang menunggu untuk ditemukan. Ada pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, penghormatan kepada tamu, serta makna persaudaraan yang tidak dibatasi hubungan darah.
Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan. Perjalanan adalah tentang bagaimana hati belajar memahami kehidupan, mengenali diri sendiri, dan menemukan jejak-jejak hikmah yang Allah hamparkan di setiap langkah manusia. (***)
-
Kalteng1 bulan agoBupati Murung Raya Pantau Penyaluran Daging Hewan Kurban Iduladha 1447 H
-
Kalteng1 bulan agoJelang Iduladha 1447 H, Pemkab Murung Raya Salurkan 111 Ekor Sapi Kurban
-
DPRD Kabupaten Murung Raya1 bulan agoWaket I DPRD Apresiasi Pemkab Murung Raya Salurkan 111 Ekor Sapi Kurban
-
Kalteng3 minggu agoRahmanto Muhidin Terpilih Pimpin Kerukunan Keluarga Bakumpai Murung Raya Periode 2026–2031
-
Kalteng1 bulan agoPemkab Murung Raya Kembali Raih Opini WTP dari BPK LKPD 2025
-
Kalteng4 minggu agoPolres Murung Raya Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis, Ribuan Pelajar Terima Manfaat
-
Kalteng4 minggu agoDandim 1013/Muara Teweh Beri Kejutan Ulang Tahun Bupati Murung Raya
-
Kalteng1 bulan agoWabup Murung Raya Jadi Khotib Salat Iduladha di Masjid Agung
-
DPRD Kabupaten Murung Raya1 bulan agoDPRD Bangga Kontingen Murung Raya Raih Juara Umum III di FBIM 2026
-
DPRD Kabupaten Murung Raya3 minggu agoKetua DPRD Murung Raya Apresiasi Kepulangan Jemaah Haji, Usulkan Petugas Pendamping Daerah
